Agenda Bulan Ini |
|
16-18 Feb. 2012 Bapa Uskup Rapat Komdik KWI di Jakarta 14-15 Feb. 2012Rapat Dewan Imam 6-7 Feb 2012Rekoleksi Dekanat 1 4 Feb. 2012Ultah RS Myria 1-7 FebBapa Uskup ke Roma |
Galeri Foto
|
|
Pencarian Data |
|
|
Statistik Pengunjung |
10542 |
Info |
| Jika ada data dan gambar yang ingin dipublish, bisa dikirimkan ke : sekpaskapal09@gmail.com |
|
Berita Dukacita, Romo "Eyang" Harjo BerpulangTelah Berpulang kehadirat Bapa seorang Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang:
Nama : Rm. F.X. Hardjoatmojo, Pr
Wafat : Jumat, 2 Maret 2012
Waktu : Pkl. 13.58 WIB di RS. RK. Charitas, Palembang
Jenasah Disemayamkan di Gereja Paroki St. Yoseph, Palembang, dan akan dimakamkan pada Senin, 5 Maret 2012 di Kompleks Pemakaman Charitas
Bagi umat yang ingin mendoakan serta memberi penghormatan terakhir kepada Romo Harjo, harap memperhatikan Jadwal peribadatan berikut ini:
Jumat, 2 Maret 2012 : Misa di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl. 20.00 WIB
Sabtu & Minggu, 3 & 4 Maret 2012 : Ibadat di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl. 19.30 WIB
Senin, 5 Maret 2012 : Misa Requiem di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl. 10.00 WIB
|
|
Belajar Dari Pengalaman Hidup Sehari-hari Pengalaman merupakan guru yang paling berharga. Hal ini disadari sejumlah sekolah dan perguruan tinggi, tak terkecuali Sekolah Tinggi Musi. Kegiatan Live In memberi kesempatan kepada seorang mahasiswa-mahasiswi untuk tinggal dan mengalami hidup bersama sebuah keluarga baru.
Tiga puluh mahasiswa-mahasiswi STIE dan STT Musi mengadakan Live In di Paroki St Mikael Tanjungsakti, mulai Sabtu hingga Selasa (28-31/1). Selain tim dari Campus Ministry, Live In kali ini mengikutsertakan para mahasiswa-mahasiswa penerima beassiswa dari Van de Venter dan Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK). Kendati masih diutamakan untuk mahasiswa-mahasiswa Katolik, namun ada beberapa peserta non Katolik yang turut serta dalam kegiatan ini.
Menurut Romo Agustinus Riyanto, SCJ, pembimbing Live In, tujuan Live In supaya mahasiwa-mahasiswi memahami kehidupan masyarakat secara nyata dan menjadikan pengalaman paling berharga. |
Awal mula Pohon NatalKisah Pohon Natal merupakan bagian dari riwayat hidup St. Bonifasius, yang nama aslinya adalah Winfrid. St. Bonifasius dilahirkan sekitar tahun 680 di Devonshire, Inggris. Pada usia lima tahun, ia ingin menjadi seorang biarawan; ia masuk sekolah biara dekat Exeter dua tahun kemudian. Pada usia empatbelas tahun, ia masuk biara di Nursling dalam wilayah Keuskupan Winchester. St. Bonifasius seorang yang giat belajar, murid abas biara yang berpengetahuan luas, Winbert. Kelak, Bonifasius menjadi pimpinan sekolah tersebut. |
Semua Berawal Dari KekagumanRasanya masih segar dalam ingatan, beraktifitas bersama dengan seorang frater diosesan yang menjalani masa TOP di kantorku. Mencari berita bersama, liputan keluar kota dalam satu tim, bersama-sama melihat potret kecil dari wajah luas Gereja KAPal. Fr Yustinus Suwartono, Pr, ketika itu ditugaskan untuk berpastoral kategorial di KOMSOS Keuskupan Agung Palembang. Tak terasa, sosok frater yang menyenangkan dan lincah itu kini menjadi seorang diakon. Tahap terakhir sebelum imamat diterimanya.
Benih panggilan dalam diri Fr Yustinus muncul dari rasa kagumnya terhadap pribadi para romo dan pakaian aneh yang dipakai romo saat misa. “Bagi anak-anak kampung seperti saya, sosok seorang romo itu kadang menakutkan, kadang juga mengundang untuk dekat padanya. Ia menakutkan setelah penampilannya berubah dengan macam-macam kain yang dipakainya untuk memimpin upacara ritual di gereja. Pakaian-pakaian aneh yang tak pernah saya jumpai dijual di pasar-pasar kain di kampung saya. Waktu itu, saya tidak tahu nama-nama pakaian itu dan mengapa harus memakai pakaian aneh itu. Di saat lain, romo menjadi sosok yang menarik anak-anak seusia saya untuk melihatnya dari dekat. Bahkan saya ingin menyentuhnya,” tutur Frater Yustinus. |
Tuhan Memanggil, Jawab YA!“Awal benih panggilan itu muncul sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi di mana waktu itu banyak berkenalan dengan romo-romo dan frater-frater yang biasa berkunjung ke rumah untuk melakukan ibadat. Kebetulan dulu stasi kami belum ada tempat ibadat. Jadi rumah kami sering dijadikan sebagai tempat ibadat. Dari situlah saya mulai berkenalan dengan romo dan frater dan punya relasi yang agak dekat dengan mereka. Sejak saat itu keinginan menjadi imam muncul,” tutur Diakon Thomas Sagino.
Berasal dari keluarga sederhana membuat Sagino kecil tahu menghargai hidup. Masa kecil ia jalani layaknya anak kecil lainnya di Muara Bungo. Menjadi murid SD di SDN 341 Alai Ilir, kemudian melanjutkan pendidikan ke SLTP Negeri 3 Rimbo Bujang. Ketika duduk di bangku SMP, Sagino ingin melanjutkan pendidikan di seminari. Tetapi ketika ingin mendaftarkan diri ke seminari, sang ayah mengatakan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Muara Tebo. Alasannya, waktu itu kakak perempuannya mendaftarkan diri menjadi suster di salah satu biara. |
Jadi Berarti Karena Kasih TuhanLingkungan mempengaruhi cara hidup dan profesi seseorang. Agaknya, kalimat ini cocok untuk menggambarkan sosok frater satu ini.
Pasalnya, di kota Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan kota kelahiran pria berkulit hitam manis ini, telah melahirkan benih-benih panggilan untuknya.
Siapa yang tidak kenal dengan Pulau Flores? Di pulau yang mayoritas penduduknya beragama Katolik ini banyak tumbuh panggilan. Tak heran kita mendengar ada begitu banyak imam, biarawan-biarawati bahkan kongregasi lahir dari Pulau Bunga ini. Panggilan ini pun akhirnya tumbuh di dalam sosok kelahiran 18 Juli 1981, Frater Diakon Aloysius Bernulfus Syukur de Montfort, Pr. |
|