Keuskupan Palembang
Agenda Bulan Ini
Minggu, 23 Juni 2013

Pemberkatan Kapel di Sungai Lilin Paroki St. Stephanus Palembang


Jumat, 21 Juni 2013

Karina KWI di Jakarta


Rabu, 19 Juni 2013

Tahbisan Diakon di Lampung


28-30 Mei 3023

Common Fund KWI di Jakarta


26 Mei 2013

Krisma di Katedral Tanjungkarang


Galeri Foto
Pencarian Data
Statistik Pengunjung
   23303
Info
Jika ada data dan gambar yang ingin dipublish, bisa dikirimkan ke : sekpaskapal09@gmail.com

 
Tahun Iman

TAHUN IMAN 2012
SURAT APOSTOLIK
YANG DITERBITKAN SEBAGAI “MOTU PROPRIO”
“PINTU KEPADA IMAN”
(Porta Fidei)
DARI BAPA SUCI BENEDIKTUS XVI
UNTUK MENCANANGKAN TAHUN IMAN

KYD, Potret Geliat OMK

    Kala mentari bersinar, orang muda  di dua puluh enam paroki di Keuskupan Agung Palembang pun bangkit dan bergegas. Moment akbar empat tahunan yang menjadi kerinduan setiap OMK KAPal  itu pun tiba. Satu demi satu dari seribuan peserta pun menginjakkan kaki di komplek pendidikan katolik di jalan bangau 60 Palembang. Komplek Xaverius dan Sekolah Tinggi MUSI menjadi saksi semangat OMK KAPal yang menggebu-gebu untuk mengikuti perhelatan akbar ini. Kenapa tidak menggebu-gebu, bagi mereka yang sudah pernah mengikuti perhelatan akbar OMK KAPal di tahun-tahun sebelumnya, akan merasa ketagihan dan ingin terus bisa berpartisipasi dalam Temu Akbar seperti ini.

Seperti pernah ditegaskan oleh Rm. Blasius Sukoto, SCJ, Moderator Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Palembang, bahwa Temu Akbar Kaum Muda Keuskupan Agung Palembang yang saat. ini dikenal dengan KAPal Youth Day merupakan puncak dari seluruh kegiatan orang muda di keuskupani ini. KAPal Youth Day 2012 menjadi puncak syukur bagi seluruh orang muda katolik di keuskupan ini atas segala aktifitas menggereja yang telah dilaksanakan selama kurun waktu empat tahun terakhir, mulai dari tingkat terkecil, stasi, paroki, distrik, maupun dekanat.
    KYD, sejatinya menjadi moment istimewa bagi orang muda di keuskupan ini. Inilah puncak dari kerinduan orang muda itu. Kerinduan untuk berkumpul, berbagi dan memupuk pengetahuan iman dalam kebersamaan yang terjalin dalam pertemuan-pertemuan seperti ini. Puncak kerinduan itu tergambar nyata dalam antusiasme orang muda dalam kegiatan ini. “Melihat kalian, melihat semangat yang begitu besar dari Orang Muda Katolik Keuskupan ini, saya merasa bahwa masa depan Gereja di Keuskupan ini akan cerah. Saya bersyukur bahwa di tengah-tengah paroki di Keuskupan ini ternyata masih banyak orang muda yang peduli dengan kehidupan beriman. Anda yang berkumpul di dalam KAPal Youth Day ini adalah potret dari masa depan Gereja di Keuskupan ini,” ujar Uskup Agung Palembang, Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ.
    KYD 2012, menjadi sebuah potret puncak geliat OMK di Keuskupan Agung Palembang. Perhelatan sekelas KAPal Youth Day kali ini tentu diwarnai dengan berbagai tumpukan-tumpukan harapan yang akhirnya mengerucut pada sebuah asa bahwa OMK KAPal akan menjadi Orang Muda yang semakin Dewasa dalam iman, pengetahuan dan tindakan. Sebuah asa yang saat ini sangat relevan dengan situasi zaman yang semakin ‘tak karuan’. Bukan hal yang mudah untuk mewujudkan asa ini. Peran serta seluruh lapisan gereja sangat menentukan munculnya buah-buah manis dari sebuah harapan yang sederhana ini.
Sebagai sebuah potret dari geliat OMK di KAPal, KYD 2012 kali ini tentunya menjadi ajang pembuktian dari seluruh OMK di KAPal bahwa dengan segala kelemahan dan kelebihannya, dengan beragam geliat yang telah mereka lakukan di stasi, di paroki maupun di dekanat masing-masing, sejatinya mereka adalah tonggak penyangga masa depan Gereja di keuskupan ini. Kesadaran akan tanggung jawab sebagai tonggak penyangga masa depan Gereja di keuskupan inilah yang akhirnya mesti sungguh-sungguh diejawantahkan oleh OMK selepas pelaksanaan KYD. Bahkan, tanggung jawab untuk ikut mewujudkan rekomendasi Sinode II Keuskupan Agung Palembang mesti menjadi kesadaran tersendiri bagi OMK yang menjadi bagian dalam KAPal Youth Day ini.
    KAPal Youth Day adalah puncak, tapi juga sekaligus menjadi titik tolak bagi OMK untuk terus mendewasakan diri mereka sebagai bagian dari masa depan Gereja. Hal ini pun diamini oleh Romo Stefanus Supardi, Pr, Pastor Paroki Sang Penebus Batuputih. “Bagi saya, konsep KYD ini bagus dan KYD ini merupakan bentuk dari peneguhan dan puncak dari segala proses yang sudah terlaksana di paroki masing-masing setahun sebelum KYD diselenggarakan. KYD ini adalah pecut bagi OMK untuk terus melangkah maju dan semakin mencintai imannya, dan semoga cita-cita masa depan Geraja dan Keuskupan ini perlahan mampu terwujud dan diwujudnyatakan oleh OMK kita,” ujarnya sembari berharap. **Agustina Lusiana

Berita Dukacita, Romo "Eyang" Harjo Berpulang

Telah Berpulang kehadirat Bapa seorang Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang:

Nama        : Rm. F.X. Hardjoatmojo, Pr

Wafat        : Jumat, 2 Maret 2012

Waktu       : Pkl. 13.58 WIB di RS. RK. Charitas, Palembang

Jenasah Disemayamkan di Gereja Paroki St. Yoseph, Palembang, dan akan dimakamkan pada Senin, 5 Maret 2012 di  Kompleks Pemakaman Charitas

Bagi umat yang ingin mendoakan serta memberi penghormatan terakhir kepada Romo Harjo, harap memperhatikan Jadwal peribadatan berikut ini:

Jumat, 2 Maret 2012  : Misa di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl.  20.00 WIB

Sabtu & Minggu, 3 & 4 Maret 2012  : Ibadat di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl.  19.30 WIB

Senin, 5 Maret 2012  : Misa Requiem di Gereja St. Yoseph Palembang, Pkl.  10.00 WIB

 

 
Semua Berawal Dari Kekaguman

Rasanya masih segar dalam ingatan, beraktifitas bersama dengan seorang frater diosesan yang menjalani masa TOP di kantorku. Mencari berita bersama, liputan keluar kota dalam satu tim, bersama-sama melihat potret kecil dari wajah luas Gereja KAPal. Fr Yustinus Suwartono, Pr, ketika itu ditugaskan untuk berpastoral kategorial di KOMSOS Keuskupan Agung Palembang. Tak terasa, sosok frater yang menyenangkan dan lincah itu kini menjadi seorang diakon. Tahap terakhir sebelum imamat diterimanya.
Benih panggilan dalam diri Fr Yustinus muncul dari rasa kagumnya terhadap pribadi para romo dan pakaian aneh yang dipakai romo saat misa. “Bagi anak-anak kampung seperti saya, sosok seorang romo itu kadang menakutkan, kadang juga mengundang untuk dekat padanya. Ia menakutkan setelah penampilannya berubah dengan macam-macam kain yang dipakainya untuk memimpin upacara ritual di gereja. Pakaian-pakaian aneh yang tak pernah saya jumpai dijual di pasar-pasar kain di kampung saya. Waktu itu, saya tidak tahu nama-nama pakaian itu dan mengapa harus memakai pakaian aneh itu. Di saat lain, romo menjadi sosok yang menarik anak-anak seusia saya untuk melihatnya dari dekat. Bahkan saya ingin menyentuhnya,” tutur Frater Yustinus.

Tuhan Memanggil, Jawab YA!

“Awal benih panggilan itu muncul sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi di mana waktu itu banyak berkenalan dengan romo-romo dan frater-frater yang biasa berkunjung ke rumah untuk melakukan ibadat. Kebetulan dulu stasi kami belum ada tempat ibadat. Jadi rumah kami sering dijadikan sebagai tempat ibadat. Dari situlah saya mulai berkenalan dengan romo dan frater dan punya relasi yang agak dekat dengan mereka. Sejak saat itu keinginan menjadi imam muncul,” tutur Diakon Thomas Sagino.
Berasal dari keluarga sederhana membuat Sagino kecil tahu menghargai hidup. Masa kecil ia jalani layaknya anak kecil lainnya di Muara Bungo. Menjadi murid SD di SDN 341 Alai Ilir, kemudian melanjutkan pendidikan ke SLTP Negeri 3 Rimbo Bujang. Ketika duduk di bangku SMP, Sagino ingin melanjutkan pendidikan di seminari. Tetapi ketika ingin mendaftarkan diri ke seminari, sang ayah mengatakan kepadanya untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Muara Tebo. Alasannya, waktu itu kakak perempuannya mendaftarkan diri menjadi suster di salah satu biara.

Jadi Berarti Karena Kasih Tuhan

Lingkungan mempengaruhi cara hidup dan profesi seseorang. Agaknya, kalimat ini cocok untuk menggambarkan sosok frater satu ini.
Pasalnya, di kota Ruteng, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang merupakan kota kelahiran pria berkulit hitam manis ini, telah melahirkan benih-benih panggilan untuknya.
Siapa yang tidak kenal dengan Pulau Flores? Di pulau yang mayoritas penduduknya beragama Katolik ini banyak tumbuh panggilan. Tak heran kita mendengar ada begitu banyak imam, biarawan-biarawati bahkan kongregasi lahir dari Pulau Bunga ini. Panggilan ini pun akhirnya tumbuh di dalam sosok kelahiran 18 Juli 1981, Frater Diakon Aloysius Bernulfus Syukur de Montfort, Pr.

Copyright by keuskupan-palembang.or.id